Jatuh cinta tapi tidak sehat

Gw pernah berada di satu fase di mana cinta datang bukan mengetuk, tapi langsung ngedobrak itu kepala. Logika berantakan, prinsip ditumpuk di pojokan kamar, harga diri dilipat rapi lalu disimpan entah dimana. Gw lagi jatuh cinta, dan selayaknya orang lagi jatuh, gw lupa cara berdiri dengan benar.

Gw belajar menunggu bukan karena sabar, tapi karena berharap. Belajar memaklumi, bukan karena mengerti, tapi karena takut ditinggal. Waktu jadi panjang, janji jadi samar, dan gw pelan-pelan mengecilkan diri sendiri supaya muat di hidup seseorang. Gw berhenti bertanya bukan karena jawabannya jelas, tapi karena lelah mendengar sunyi. Di luar mungkin gw masih terlihat utuh, tapi di dalam, bocor pelan-pelan. Energi habis. Kata-kata mengering. Menulis juga ga lagi kerasa seperti pulang. Sampai akhirnya gw sadar: cinta yang bikin gw lupa diri, bukan tempat untuk tinggal lama-lama. 

Sekarang kalau menoleh ke belakang rasanya pengen gw goblok-goblokin wkwkwkwk. Kalau suatu hari cinta datang lagi, gw harap dia bisa datang dengan kursi kosong di sebelahnya, biar bisa jadi tempat gw duduk sebagai diri sendiri, tanpa harus mengecil, tanpa harus menghilang. Kalo kata nyokap gw, cinta seharusnya bisa bikin kita pulang, bukan justru bikin tersesat.

Komentar