Mengagumi Orang Produktif Tanpa Ikut Jadi Produktif
Ada dua tipe manusia di dunia ini, yang pertama adalah dia yang senang berada di kerumunan orang tapi gampang ngerasa capek, ada yang senang sendirian tapi juga ngeluh kesepian. Gw pikir dunia ini cuma berputar di dua kutub itu. Sampai akhirnya gw nemu satu anomali kecil (mungkin bisa jadi besar juga) di sebuah komunitas yang belakangan gw ikuti. Anomali berupa dua orang yang setiap kali muncul ke permukaan selalu bikin reaksi gw sama: buset dah kak.
Ke dua orang ini adalah rekan gw di salah satu komunitas. Satu perempuan dan satu laki-laki. Mbak-mbaknya ini konon pernah jadi Duta Museum DIY, sementara masnya itu founder dua komunitas kebudayaan dan sejarah besar di Jogja. Jadi ya ga heran juga sih di hampir setiap kerja-kerja kebudayaan, selalu ada mereka. Seolah mereka punya subscription lifetime di setiap agenda orang-orang kebudayaan Jogja.
Gw sebagai anak kemaren sore yang baru nyemplung di kerja-kerja kebudayaan (juga salah satunya adalah karena gw satu komunitas sama mereka) tiap kali ada kegiatan itu selalu "lah buset 4L (lu lagi lu lagi)". Bukan cuma karena kemahiran mereka yang yaudah sih gw orang-orang ga perlu meragukan lagi, tapi karena energinya yang kata gw mah ga ada matinya. Dari satu acara ke acara lain, dari diskusi ke diskusi, dari forum resmi sampai obrolan santai, mereka berdua ini tetap hadir, tetap hidup, tetap kelihatan “on” Ditambah lagi keduanya ya ketua komunitas yang gw ikutin sekarang. Di luar keseharian mereka di komunitas, tentu mereka juga punya kehidupan sendiri, yang pada akhirnya sampai bikin gw mikir:
Itu apa mereka kagak capek, ya?
Karena terus terang, gw yang cuma ngeliat mereka aja udah capek. Beneran. Gw pulang dari satu acara setengah hari aja rasanya pengen langsung rebahan, nutup rapet-rapet pintu kamar, dan menarik diri dari dunia. HP dijauhin, notifikasi dimatiin, eksistensi di-line ditangguhkan sementara. Itu baru acara setengah hari, kalau acaranya seharian penuh? jangan harap kalian bisa nemuin gw dalam beberapa waktu ke depan. Tapi mereka? hari ini ketemu, besok ketemu lagi, lusa ternyata mereka lagi yang ngisi kegiatan. Di situ gw mikir, kak kalau gw jadi lu kayaknya bukan cuma mengurung diri di kamar lagi, tapi udah menghilang dari peradaban sih...
Ga berhenti di situ aja, yang bikin makin bingung adalah dua orang ini se capek apapun tetep bisa ngejokes dan jokesnya dapet lagi. Fortunately ternyata selera humor gw ini nyambung sama mereka berdua. Terutama sama mbaknya ini. Recehnya ketemu. Saut-sautan yang sebenernya ga mutu, tapi kok pas. Di tengah obrolan kebudayaan yang serius, bisa-bisanya nyelip humor receh yang bikin ketawa sendiri. Dan di situ gw makin mikir "lah, orang sekeren ini ternyata bisa se-receh ini juga"
Mungkin itu rahasianya. Mungkin karena mereka nggak melulu hidup di mode “ikon komunitas”. Mereka tetap manusia yang bisa ketawa, bercanda, dan nggak selalu sok serius. Jujur gw kagum sih sama mereka. Banget. Tapi gw juga tetap capek melihat stamina mereka yang kayak nggak habis-habis itu wkwkwk. Kekaguman yang bercampur keheranan, sedikit pertanyaan eksistensial tentang batas energi manusia.
| Gambar hanya pemanis, biar gw keliatan produktif juga (ditambahkan kemudian hari). |
Mungkin tulisan ini bukan cuma tentang mereka. Tapi juga tentang gw yang masih harus belajar menerima bahwa manusia diciptakan dengan ritme yang berbeda-beda. Ada yang nyalanya panjang dan stabil, ada yang harus sering berhenti, tarik napas, terus lanjut pelan-pelan, dan ga ada yang salah dari keduanya. Ada orang-orang yang hidupnya memang seperti itu, jalan terus, nyala terus, sambil sesekali nyeletuk jokes receh di tengah dunia yang ribut, edan, rewel, dan sering kali terasa terlalu penuh dan muak.
Meskipun aku ga tau (dan juga mungkin ga akan pernah tau) kenyataan sebenarnya di balik dua orang ini, apa aja yang mereka lewati, seberapa sering mereka lelah, atau berapa banyak hal yang harus mereka pendam sendiri, aku cuma mau bilang satu hal dengan tulus. Mbak Sukma, Mas Erwin, kalian keren. Bukan hanya karena apa yang kalian lakukan, bukan hanya karena posisi atau peran yang kalian jalani, tapi kalian tetap memilih hadir, tetapi memilih hidup, dan tetap memilih untuk memberi, bahkan di saat banyak orang mungkin udah milih untuk berhenti (termasuk gw wakakakak).
Semoga kalian selalu diberi ruang untuk beristirahat tanpa rasa bersalah, dan hati yang tetap ringan di tengah kesibukan duniawi yang sebenernya duniawi-duniawi amat. Juga, semoga semesta selalu ramah pada langkah kalian. Makasih juga udah jadi contoh bahwa berkarya ga harus kehilangan rasa manusiawi. Bahkan di balik kerja-kerja serius kalian, masih ada tawa, kehangatan, dan humor receh yang bikin dunia terasa dikit lebih waras (dikittt).
Komentar
Posting Komentar