Di ujung doa
Ada satu fase di hidup gw dimana doa-doa rasanya ga pernah selesai. Bukan karena gw lupa menutupnya, tapi karena gw sendiri ga tau harus berhenti di mana. Setiap kali gw ngerasa udah cukup berdoa, hidup datang lagi bawa cerita baru. Masalah baru. Kegagalan baru. Seolah-olah semesta bilang lanjut dulu, jangan ditutup.
Ternyata ga semua doa harus langsung ketemu jawabannya ya wkwk. Ada doa yang bentuknya bukan permintaan, tapi ketahanan. Ada doa yang bukan tentang dikabulkan, tapi tentang dikuatkan supaya tetap berjalan meskipun pelan. Seperti kalimat yang belum diberi titik, hidup gw waktu itu kyknya penuh sama tanda koma wkwkwk. Berhenti sebentar, lanjut lagi, berhenti lagi, lanjut lagi. Gagal datang berkali-kali. Bukan cuma satu-dua kali yang sekiranya masih bisa gw ketawain, tapi sampai gw sendiri udah ga bisa ngitung. Ada hari di mana gw merasa udah nyoba segalanya, tapi hasilnya tetap sama: jatuh lagi. Di momen-momen kayak gitu, doa gw sederhana aja. Ga lagi minta berhasil, ga lagi minta menang, cuma minta tolong jangan bikin gw berhenti.
Kadang gw mikir, mungkin doa gw selama ini ga dijawab bukan karena diabaikan, tapi karena masih diketik. Masih dirangkai. Masih disiapin draftnya. Masih ada titik-titik di ujungnya yang belum waktunya ditaruh, dan selama titik itu belum ada, berarti ceritanya belum selesai. Gw belajar menerima kalau hidup ga harus langsung rapi. Ga semua kegagalan harus langsung ketemu maknanya. Ada kegagalan yang cuma diminta untuk dilewati. Ada hari-hari yang menurut gw fungsinya cuma satu: bikin kita tetap hidup sampai besok. Ternyata itu sudah cukup.
Jadi, mungkin hari ini belum. Masih belum. Mungkin titiknya belum ditaruh. Tapi selama gw masih mau bangun besok dan nyoba lagi, berarti doanya masih jalan. Dan selama doa itu masih berjalan, gw percaya satu hal: ceritanya belum selesai.

Komentar
Posting Komentar