Dia

Pernahkah kita mengira, apa kita ini sebenarnya punya kriteria khusus untuk orang-orang yang kita cinta? Entah itu rupa, bagaimana semesta membentuknya, dan apa yang dia lakukan dalam hidup sebagai manusia. Beberapa dari kita mungkin menyangkal konsep tersebut. Katanya, jatuh hati tanpa alasan selalu lebih terasa menyenangkan. Beberapa yang lain merasa perlu, sebab itu adalah bentuk menghargai kualitas diri yang selama ini dibentuk.

Entah apapun prinsip yang kita anut, ga bisa dipungkiri kalo kita tetep memiliki parameter sendiri terhadap orang-orang yang kita izinkan masuk ke dalam hidup. Sadar atau ga, begitulah cara kerjanya. Selalu orang dengan kualifikasi paling mendekati yang akan dipilih. Yang jadi masalah adalah saat kita belum menemukan dia yang paling serasi, lalu mengubah orang yang cenderung memiliki kualifikasi pas-pasan hanya karena kebetulan dia yang sedang ada dan menawarkan rasa sayang. 

Bukankah begitu?

Kita mengubahnya jadi seseorang yang hidup di sana, di dalam imajinasi yang isinya kesempurnaan. Kita memaksanya mengubah hal-hal yang bukan dirinya, ga peduli dia sudi atau justru tertekan. Ketika dia ga lagi berhasil dengan proses itu, kita menyebutnya sibuk mementingkan diri dan membosankan. Padahal dia juga punya hak atas dirinya. Apapun yang terjadi, ga ada yang mampu mengubah sifat dan karakter seseorang selain dirinya sendiri. Akuilah proses mengubah dan diubah sangat menyesakkan pikiran. Tentu kita pun ga mau jadi orang lain agar dapat perhatian. Kita ga akan mau begitu aja mengubah apa yang selama ini kita anggap benar cuma untuk dapat pengakuan.

Tugas kita cuma perlu mencari dia yang kapabilitasnya paling mendekati. Dia yang kekurangannya masih sanggup kita genapi. Yang membuat kita merasa cukup sampai ga perlu ke mana-mana lagi. Bukan menerima dia yang di awal jelas membuat skeptis, lalu karena ga punya opsi, kita memilih dan mengubahnya sampai menjadi persis.

Kita semua adalah orang dewasa yang banyak pikiran. Terlalu banyak hal penting yang harus dipusingkan bikin kita harus mengalokasikan energi dengan benar. Apakah mengutak-atik karakter manusia adalah salah satunya? Jelas bukan. Lalu di antara banyaknya kemungkinan Tuhan memilih kita untuk ga saling punya cerita. Entah usaha kita kurang, entah doa kita yang kurang, atau ketika bersama nanti, kita akan terus merasa kekurangan.


Selamat telah mencapai akhir dari bulan Januari.

Komentar