Kupu-kupu

Ada yang pernah bilang, sebaiknya pilih dia yang langkah kakinya sejalan. Karena jika terlalu cepat kita akan susah menyamakan langkah. Tapi juga kalau terlalu lambat kita bakal ngerasa dia susah buat diandelin juga. Membahas jalan hidup yang akan dilalui dengan seseorang udah jadi hal yang krusial, ke mana lagi arah dua orang yang sama-sama dewasa menjalin hubungan?

Hal yang barangkali ga pernah terbesit di pikiran kita waktu kita menginjak umur belasan, yang mana urusan percintaan belum membuat kita melihat jauh ke depan. Melihat jauh yang sebenar-benarnya jauh.  Ga sebatas khayalan panjang pengisi obrolan malam. Kita di masa itu seringnya hanya fokus pada masalah cinta monyet dua insan berumur belasan, lupa bahwa cinta akan lebih luas dari sekedar jengkalan tangan.

Ada kalanya kita pernah membahas mimpi-mimpi yang ingin dicapai bersama. Tapi coba ingat lagi, apakah deretan angan itu acap membuat kita objektif ada keputusan yang dibuat? Seringnya ga juga. Karena kita masih terbius efek kupu-kupu yang begitu kuat. Pun kita masih terlalu muda. Kita cuma tahu cara menikmati bahagia yang ada.

Menginjak umur seperempat abad, yakinlah urusan perasaan udah jadi sesuatu yang kompleks. Gagasan hidup bersama ga semudah yang dikira sebelumnya. Tentu kita juga tahu bahwa segala mimpi yang selama ini diciptakan sendiri harus dibagi berdua. Upaya mewujudkannya juga nggak jarang bikin kita memutar kepala. Mencoba mencari solusi, berusaha menemukan jalan alternatif yang ga pilih kasih, melibatkan orang lain, meski kita rasanya benci dicampuri.

Pada akhirnya segenap upaya tetap berujung pada dua lajur yang berbeda. Kita ingin terbang bebas di atas langit, sementara dia terlalu mencintai buminya. Memilih untuk melupakan mimpi sendiri rasanya berat, tapi bikin dia melepaskan mimpinya juga bukan tindakan yang tepat. Semuanya yang dilakukan hanya akan menjadi egois untuk satu sama lain. Hanya berbuntut luka untuk setiap batin.

Barangkali hubungan itu akan lebih bersinar kalau keduanya jalan masing-masing. Ga ada tuntutan untuk memilih. Ga ada perdebatan panjang yang ga punya akhir. Hanya ada dua orang yang cukup dewasa dalam mencintai. Kalo ternyata ini cuma soal rasa cinta yang tidak besar kelihatannya, terlalu dangkal rasanya untuk percaya. Karena cinta nggak selamanya menyatukan tapi juga melepaskan. Bentuk cinta paling ga masuk akal tapi nyata.. adalah meninggalkan.

Cintai sekadarnya. Berharap sewajarnya. Bersedih secukupnya. 

Masalahnya sama kamu aku mana bisa.


Komentar