Intropeksi
Semenarik apapun hidup ini, bumi ga pernah berputar mengitari garis orbit yang isinya cuma kita sendiri. Kita bukan pusat semesta. Jelas hidup ga selamanya bisa berpihak. Hari ini terang, besok bisa begitu gelap. Hari ini beruntung, lusa bisa mendadak mendung. Satu hal pasti yang juga terjadi adalah, mau sebanyak apapun kita melakukan hal benar, kesalahan tetap akan ada.
Perkara buruk ga selalu datang dari aspek eksternal. Rasanya kelewat egois bersikap seolah kita yang selalu menjadi korban (kecuali emang lu nya aja yang kebangetan). Dengan lantang menunjuk apa-apa aja yang bikin hidup jadi berantakan, tanpa melihat ke cermin, pada diri sendiri yang nyatanya juga ambil peran. Mungkin kita ga sadar. Mungkin kita cuma sebagian dari mereka yang terlalu abai.
Dengan tak acuh membawa lari setiap masalah, lalu melimpahkan pada orang yang ga tau apa-apa. Menyalahkan keadaan, mengoceh seperti hanya kita yang punya lidah. Sampai yang terburuknya adalah melibatkan sesuatu yang seharusnya ga turut serta. Di sisi lain, kita kerap berlindung pada alibi cinta diri sendiri. Mengharap siapapun akan mengerti hingga menormalisasi perlakuan buruk yang kita beri.
Hidup menginjak dewasa ga sesingkat pembahasan gimana caranya ngadepin orang lain, tapi juga mengontrol apa yang selama ini bercokol pada diri sendiri. Orang lain mungkin melakukan kesalahan lebih banyak dari yang kita buat. Beberapa dari mereka bahkan ga tau caranya bertanggung jawab. Tapi kita ga punya kuasa untuk kaki-tangan mereka. Kita ga tau ke mana arah pikirannya bermuara, kan? Yang seharusnya terjadi, kita bisa mengelola isi kepala sendiri. Kita punya kemampuan penuh untuk ga bertindak melampaui garis. Ketika perlakuan udah di luar batas, kita masih punya mulut yang mampu mengucap kata maaf. Kata nyokap, ga ada yang lebih luas dari jiwa yang mampu mengaku salah dan bertekad untuk memperbaikinya. Sebab bernapas dengan wajah mendongak ga pernah setenang saat kita tersenyum dan berbelas kasih pada sesama.
Komentar
Posting Komentar