Jatuh cinta (lagi)
Gw pernah menganut paham bahwa jatuh cinta adalah satu peristiwa besar yang hanya pantas terjadi sekali. Sekali yang penuh keyakinan, sekali yang membuat seseorang rela mengubah banyak hal, dan sekali yang jika gagal, cukup untuk membuat hati kapok seumur hidup. Setelah itu, gw pikir manusia hanya akan hidup dengan kenangan dan kehati-hatian. Ga lagi berharap terlalu jauh, ga lagi membuka diri terlalu lebar. Gw hidup cukup lama dengan keyakinan itu.
Gw juga pernah berada di fase di mana kata jatuh cinta terdengar melelahkan. Bukan karena gw ga percaya sama cinta, tapi karena udah terlalu sering percaya dan terjebak dengan cara yang brutal. Memberi tanpa menghitung, bertahan tanpa batas, dan memaafkan bahkan ketika diri gw sendiri udah lelah. Gw pernah mencintai sampai-sampai gw lupa caranya pulang ke diri sendiri. Pernah memberi terlalu banyak, menunggu terlalu lama, dan memaklumi hal-hal yang seharusnya sih ga perlu dimaklumi juga jir.
Di akhir cerita, yang tersisa cuma gw sendiri dengan hati yang capek dan kepala yang penuh pertanyaan. Sejak hari itu gw berjanji untuk berhenti. Setidaknya berhenti berharap. Gw membangun jarak aman, menata hidup agar terasa stabil, dan meyakini diri sendiri bahwa gw baik-baik aja tanpa perasaan yang berisik. Gw sibuk, mencoba produktif, menjadi lebih mandiri, terlihat kuat, dan jujur aja ada masa di mana hidup seperti itu terasa cukup. Ga berdebar emang, tapi juga ga hancur. Gw mulai percaya bahwa cinta bukan lagi prioritas. Bahwa hidup bisa tetap berjalan tanpa harus melibatkan perasaan yang rumit. Gw belajar menikmati kesendirian, merawat diri sendiri, berdamai dengan kesunyian. Gw merasa sudah sampai di titik dewasa itu, di titik di mana gw ga lagi mencari siapapun untuk melengkapi.
Lalu, seperti kebanyakan hal penting dalam hidup, cinta datang lagi tanpa permisi.
Gw ga langsung sadar. Awalnya hanya rasa aman. Obrolan yang mengalir tanpa dipaksakan. Kehadiran yang ga mengganggu, tapi juga ga kosong. Ga ada usaha berlebihan, ga ada drama, ga da keinginan untuk mengubah apapun, apalagi mengubah dunia dengan menghidupkan kembali ketujuh hokage. Hanya rasa tenang dan aman yang pelan-pelan tumbuh, dan itu ternyata yang paling menakutkan.
Jatuh cinta kali ini ga bikin gw lupa siapa gw. Ga bikin gw rela mengorbankan batas yang udah susah payah gw bangun sebelumnya. Gw ga lagi mencintai dengan cara kehilangan diri dan menjadi tolol selayaknya orang lagi kecintaan, tapi kali ini dengan cara menjaga. Menjaga jarak? Menjaga logika? Menjaga hati? gw harap iya, tanpa mematikan rasa.
Dan mungkin, di situlah letak perbedaannya. Gw ga tau kemana cerita ini akan berakhir. Gw ga pengen mendahului waktu dengan harapan yang terlalu tinggi. Gw ga pengen menjanjikan apa pun, bahkan untuk diri gw sendiri. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, gw ga lagi takut pada kemungkinan untuk terluka. Karena kali ini gw tau: apapun yang terjadi, gw ga akan pernah mau lagi kehilangan diri gw sendiri.
Jatuh cinta kali ini gw harap bukan tentang mengulang cerita lama dengan orang yang berbeda. Gw harap ini semua tentang versi diri yang juga udah berubah, lebih hati-hati, lebih jujur, dan lebih berani mengakui perasaan tanpa harus menyerahkan seluruh kendali hidup. Dan jika pada akhirnya perasaan ini hanya singgah sementara, gw akan tetap berterima kasih. Setidaknya gw tau kalo hati gw masih hidup, masih bisa merasakan, masih bisa hangat, masih bisa berharap tanpa harus kehilangan arah.
dan itu, buat gw sudah lebih dari cukup.
Tapi, masalahnya sekarang, gw jatuh cinta (lagi).
Komentar
Posting Komentar