Kenapa semua orang terlalu mengagungkan Rama?
Rama itu.. sekeras apapun narasi mencoba menyangkal, dia tetap manusia. Manusia yang dibebani status ilahi, dipaksa memikul dharma sebagai beban absolut, dan dinilai bukan dari perasannya, melainkan dari kepatuhannya. Rama diagungkan karena taat, taat pada ayahnya, pada sumpah, pada aturan, pada kosmos. Setidaknya itu pandangan gw terhadap tokoh Rama. Tapi ketaatan itu sering terasa dingin, terlalu rapi, terlalu patuh sampai mengabaikan luka yang ditinggalkan.
Lalu Sita. Ah, Sita.
Setiap kali gw membaca kisah Sita yang harus membuktikan kesucian dirinya, entah lewat api atau masa pengasingannya, gw selalu terjebak pada satu pertanyaan yang sama: siapa sebenarnya yang sedang diuji? Sita, atau rasa aman Rama di hadapan penilaian dunia? Dharma macam apa yang menuntut perempuan untuk terus membakar dirinya, secara harfiah dan simbolik, demi menenangkan kegelisahan seorang lelaki yang takut pada bisikan publik?
Dan disitulah Sita berdiri, sendirian, terlalu sering dipahami hanya sebagai simbol, bukan sebagai subjek. Sita tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk marah, tidak diberi hak untuk ragu, tidak diberi izin untuk memilih selain bertahan. Kesetiannya selalu dipuja, tapi penderitaannya justru dianggap wajar. Seolah cinta yang baik memang harus menyakitkan, dan perempuan yang ideal adalah mereka yang sanggup menelan luka tanpa suara. Gw tidak melihat Sita sebagai sosok yang lemah. Justru sebaliknya. Sita terlalu kuat, sampai-sampai dunia merasa sah untuk terus meminta pengorbanan darinya.
Lalu ada Rahwana.
Tokoh yang sejak awal tidak diberi kesempatan untuk membela dirinya sendiri. Narasi sudah lebih dulu memutuskan: dia jahat, maka semua tindakannya dibaca sebagai kejatahan. Ia kalah, maka suaranya tidak perlu dicatat. Ia mati, maka kisahnya selesai.
Padahal Rahwana tidak pernah sesederhana itu.
Bagi gw, Rahwana adalah retakan terbesar dalam bangunan moral Ramayana. Rahwana berpengetahuan, berdisiplin tapa, pemuja Siwa yang taat, raja yang melindungi kerajannya, saudara yang mencintai adik-adiknya, ayah yang punya rasa tanggung jawab. Rahwana tidak pernah menyentuh Sita, tidak pernah memaksanya, bahkan memberi pilihan, sesuatu yang ironisnya tidak diberikan oleh Rama. Rahwana tau dia salah, dan di situlah letak tragedinya. Bagiku Rahwana bukan monster yang tidak sadar moral, Rahwana justru manusia yang paham batas, tapi memilih melanggarnya. Bukan karena bodoh, tapi karena keinginan, ego, cinta yang menyimpang, dan mungkin juga karena kesepian. Rahwana ga bersembuyi di balik dharma. Rahwana juga ga menyucikan keputusannya dengan dalih kosmis. Rahwana berdiri telanjang di hadapan kesalahannya sendiri, dan tetap melangkah.
Rama terlalu sempurna untuk disentuh, terlalu tinggi untuk ditarik ke tanah. Rahwana sebaliknya, penuh kontradiksi. Dia jatuh, bangkit, salah, dan terus memilih dengan kesadaran penuh akan risikonya. Rahwana hidup di wilayah abu-abu, tempat kebanyakan manusia sebenarnya berada, tempat yang sebenarnya ga ada jawaban mutlak, hanya pilihan-pilihan yang selalu meninggalkan sisa. Mungkin itulah sebabnya Rahwana terus hidup dalam tafsir, sementara Rama hidup dalam pemujaan. Yang satu dipertanyakan, yang lain dijaga. Yang satu dibedah, yang lain dibekukan. Dan gw mulai curiga, barangkali masalahnya bukan karena Rama terlalu sempurna, tapi karena kita terlalu takut untuk mengakui bahwa kesempurnaan itu dibangun dari banyak pengorbanan yang tidak selalu adil. Kita lebih nyaman menyembah daripada mempertanyakan, lebih aman menerima daripada menggali. Padahal cerita yang benar-benar hidup selalu lahir dari celah, dari luka, dari kegagalan.
Dunia ini diisi manusia-manusia setengah lelah, setengah yakin, sering bingung, sering salah langkah. Dan gw merasa lebih terwakili oleh Rahwana. Bukan karena dia benar, tapi karena dia jujur pada ketidakbenarannya. Rama tetap penting, Sita tetap mulia, tapi Rahwana juga layak didengar. Bukan untuk dibenarkan, melainkan untuk dipahami. Ga semua yang kalah itu salah, dan ga semua yang menang itu utuh. Dan terkadang, kenyataan yang retak jauh lebih bermakna daripada kesempurnaan yang terlalu rapi, terlalu sunyi, dan terlalu jauh dari manusia seperti kita.
Rahwana tidak menang,
Tapi ia nyata.
#30DayWritingChallange

Komentar
Posting Komentar