Kerikil Hidupnya
Mustahil untuk percaya bahwa apa yang kita rencanakan terjadi akan selalu mulus jalannya. Bahkan selangkah menuju garis akhir pun, penghambat itu akan terus ada. Apalagi kalau udah tersadar, diri ini bukan siapa-siapa. Tanpa perlindungan. Kita udah harus pasang badan kesekian kalinya untuk jatuh luka-luka.
Jalan yang mulus emang ga selalu menawarkan akhir yang bahagia. Ironisnya, jalan yang penuh kendala juga belum tentu bisa bawa kita ke sana. Biar begitu, setidaknya kita udah terlatih pada segala bentuk dan jenis kerikil yang mencuat, sehingga suatu saat ketika kemampuan bertahan hidup itu perlu dibuat, minimal kita udah ngerti caranya jadi kuat.
Rintangan besar dan kecil seharusnya hanya soal perspektif. Pembedanya adalah hati yang lapang menerima. Untuk menyikapi itu, kita cuma perlu maju dan melawan. Sebab terlalu sia-sia rasanya jika mengandalkan diri yang tau bagian ngomelnya aja. Selain ngasih sugesti buruk, ada orang yang ingin kita menyumpal mulut kita tiap mendengar kita buka suara dan mengeluh. Bukan apa-apa sih, tapi ga semua orang seberlebihan dan seberisik kita waktu menghadapi kerikil hidupnya.
Bagian menariknya, kita selalu bisa meromantisasi setiap rintangan yang hadir. Ga semua masalah hidup harus disikapi seolah dia musuh yang seterusnya dibenci. Ada beberapa yang justru cuma pengen diterima keberadannya, dibiarin, dan diakui. Nikmati bagaimana hambatan itu mengiringi kita ke keputusan-keputusan baru yang mungkin ga pernah kita pikir. Mungkin aja kita ga akan pernah bertemu mereka lagi. Mungkin yang tersisa cuma jejak kaki. Saat itu tiba, berarti kita udah naik level ke yang lebih tinggi.
Kita mungkin belum terbiasa dengan perubahan ini. Tapi semuanya memang harus diawali dari aksi-aksil kecil.
Komentar
Posting Komentar