Cara paling pelan untuk mengingatmu
Konon katanya rindu itu sebenarnya pandai bersembunyi. Rindu jarang datang sebagai pengakuan yang berani, lebih sering nyamar jadi kalimat-kalimat ringan yang pura-pura ga punya arti. Duduk manis di balik basa-basi, menunggu dibaca oleh orang yang tepat, atau dibiarkan begitu saja tanpa pernah dipersoalkan.
Kadang aku lebih milih untuk bertanya, “Langit di tempatmu cerah ga hari ini?” padahal yang ingin kutau cuma satu: apakah hatimu sedang lapang? Apa harimu berjalan tanpa terlalu banyak beban yang harus kamu simpan sendiri? Pertanyaan itu ga minta jawaban panjang, aku cuma ingin tahu kalau semua baik-baik saja, meski lewat cara yang paling tidak mencurigakan.
Ada juga saat-saat di mana aku tiba-tiba dengerin lagu-lagu lama. Bukan tanpa penjelasan, bukan tanpa alasan. Tiba-tiba saja kenangan berdiri di tengah kepala, menolak disingkirkan. Dan di detik itu, aku pengen kamu juga ikut mendengarnya, walau sebentar. Bukan untuk mengulang apa-apa, hanya supaya kita pernah berada di frekuensi yang sama, meski dari jarak yang nggak bisa dijembatani.
Sebagaimana seringnya aku menceritakan hal-hal kecil yang sering kamu anggap remeh. Tentang teh yang rasanya kurang manis. Jalan yang macet tanpa sebab. Hari yang berjalan biasa saja, nyaris membosankan. Bukan karena hidupku kekurangan cerita besar, tapi karena aku percaya, rindu ga selalu lahir dari peristiwa penting. Kalo kata ibu, kadang rindu tumbuh dari keinginan sederhana: berbagi diam. Duduk di waktu yang sama, meski di tempat yang berbeda.
Kalau aku bilang, “Jaga diri baik-baik,” itu bukan nasihat. Itu doa yang ku selipkan pelan, supaya sampai tanpa harus meminta apa-apa. Aku ga bilang kalau aku rindu, karena rindu sering dianggap menuntut balasan, sementara aku cuma ingin jujur pada perasaanku sendiri. Jadi biarlah hal itu tinggal di balik kalimat-kalimat samar, di antara jeda chat yang ga mendesak, di sela cerita yang tampak sepele.
Jika suatu hari kamu merasa seperti disapa tanpa alasan, merasa diingat tanpa pernah diminta, bisa jadi itu rindu yang sedang belajar berbicara dengan suara paling pelan. Rindu yang ga ingin mengganggu, tapi juga ga sanggup benar-benar pergi. Mungkin memang begitu bentuk rindu yang mulai dewasa. Ia belajar hadir tanpa menuntut. Belajar peduli tanpa harus memiliki. Belajar menyebut namamu dalam hati, tanpa pernah benar-benar bilang kalau aku rindu. Si rindu itu, lama-lama jadi makhluk yang tahu diri. Dia jadi belajar kapan harus muncul, kapan mesti menyingkir sebelum dianggap berlebihan. Dia memilih tinggal di ruang-ruang kecil yang sering diremehkan orang: jeda sebelum tidur, lampu merah yang terlalu lama, atau detik sunyi setelah tawa selesai.
Ada malam-malam di mana aku mengetik namamu, lalu menghapusnya lagi. Bukan karena lupa cara mengeja, tapi karena aku tau, ga semua sapaan harus sampai. Kadang cukup tahu bahwa namamu masih bisa bikin dada terasa hangat, meski tanpa balasan apa-apa. Di situ aku belajar, rindu juga bisa bersifat egois, ingin tetap ada, tapi ga ingin merepotkan.
Aku mulai memahami, rindu bukan tentang ingin kembali, tapi tentang mengakui bahwa pernah ada sesuatu yang begitu berarti sampai kehadirannya masih terasa, bahkan setelah jarak berdiri sebagai batas. Dia bisa muncul di kebiasaan-kebiasaan kecil yang nggak sempat diubah. Di caraku yang masih refleks ingin cerita. Di detik di mana aku hampir mengirim pesan, lalu memilih diam karena sadar kalau kamu punya hidupmu sendiri yang harus terus berjalan. Sesekali, aku berharap semesta cukup baik untuk menyampaikan maksud yang ga terucap ini. Bukan supaya kamu datang, bukan juga supaya kamu merasa bersalah. Cuma agar, entah di mana, kamu tahu pernah ada seseorang yang mendoakanmu tanpa syarat, dan mengingatmu tanpa agenda.
Rindu yang dewasa memang ga terlalu berisik. Dia ga mengetuk pintu, ga juga memaksa dibukakan. Dia duduk bersandar di dinding kenangan, memperhatikan waktu berlalu, sambil belajar menerima bahwa beberapa perasaan memang diciptakan bukan untuk disatukan, tapi untuk diajarkan cara merelakan dengan perlahan. Dan jika suatu hari rindu itu akhirnya lelah, dia ga akan pergi dengan dramatis. Dia akan berubah bentuk. Menjadi senyum kecil saat mendengar lagu tertentu. Menjadi hening yang tidak lagi menyakitkan. Menjadi bagian dari diri yang pernah belajar mencintai tanpa harus memiliki. Jadi, rindu nggak pernah benar-benar hilang. Dia cuma berhenti meminta, dan mulai mengerti.
Dan sialnya, aku sedang rindu denganmu.
ANJIR ACONG LU BISA GALAU JUGA KAH
BalasHapus