Mengenalmu adalah salah satu nikmat yang aku cukupkan.
Menginjak usia satu perempat abad, permasalahan jelas ga melulu soal apa yang pengen dicapai dalam hidup. Lebih dari itu, harus berhadapan dengan bermacam manusia yang meliputi hubungan dengan orang tua, orang-orang yang ditemui secara ga sengaja, sampai lawan jenis yang begitu menuhin isi kepala.
Hampir setiap dari kita pernah mengukir cerita romansa, entah isinya suka atau duka. Dan mungkin sebagian dari kita nganggepnya cinta-cintaan adalah hal remeh, membahasanya berlebih adalah kegiatan yang ga esensial. Tapi kalo mau merenung sedikit, kita dibesarkan karena cinta. Kita masih hidup sampe saat ini karena mencintai cara oksigen bekerja. Mau menyangkal kayak gimanapun, manusia dan perasaan cinta sifatnya kayak jalan lintas kota dan lobang-lobangnya. Nyaris selalu ada.
Seiring waktu, kita melewati banyak fase. Ada cinta yang bikin kita merasa selamanya berusia tujuh belas tahun. Ada cinta yang bikin kita jatuh berdarah-darah dan memaksa bangkit dengan cara yang ga ramah. Ada pula yang perlahan mengubah kita menjadi seseorang yang sebenarnya ga kita inginkan. Dari semua itu, satu hal yang jelas: cinta punya andil besar dalam membentuk hidup. Cinta bisa mengubah karakter, kepercayaan, bahkan ideologi. Cinta juga bisa menciptakan delusi, bikin yang ga ada jadi ada, yang ga nyata terasa abadi.
Dari sekian banyak cerita cinta yang tercipta, yang paling berpengaruh sebenernya bukan gimana cinta itu bekerja, tapi kepada siapa cinta itu bermuara. Kita mungkin ga sadar hal apa yang bikin hati itu jatuh untuk satu nama. Bahkan ga yakin juga untuk mengakuinya. Mati-matian kita menepis semua tanda, tapi itu ternyata ga pernah lenyap. Perasaan itu ga betul-betul sirna. Dan hanya akan menjadi makin kuat seiring kita coba menghapusnya.
Kita juga harus menghadapi segala percakapan yang sebetulnya ga pernah kita rencanakan. Lalu, tanpa disadari, arah percakapan berubah. Dari obrolan ringan menjadi saling memberi nasihat, saran, dan solusi yang justru terasa menenangkan. Membicarakan harapan, mimpi, dan asa yang selama ini cuma berani disimpan. Rahasia-rahasia lama akhirnya menemukan telinga yang tepat. Meski ga sepenuhnya yakin, persetan dengan semua prinsip dan kata orang. Persetan dengan segala risiko yang muncul belakangan. Hidup cuma sekali. Cinta pada kenyataannya layak untuk diperjuangkan, setidaknya diakui keberadannya.
Dimiliki atau tidak, mengenalmu adalah salah satu nikmat yang aku cukupkan. Selebihnya hanya ikut senang saat kamu senang.
Cong tulisanmu bagus jg ya ternyata :))
BalasHapusKpn balik jogja Cong??
BalasHapus