Para dewa yang ga pernah betul-betul netral

Dalam banyak pembacaan, para dewa di kisah Ramayana ditempatkan sebagai penjaga dharma, otomatis moral tertinggi yang seolah selalu benar. Tapi kalo gw lihat lebih seksama, para dewa justru seringkali tampil ambigu. Mereka hadir, ikut campur, lalu menghilang ketika konsekuensi harus ditanggung manusia.

Seorang Rama lahir sebagai titisan dari Wisnu bukan karena dunia membutuhkan kedamaian, melainkan karena para dewa kewalahan menghadapi Rahwana. Artinya, konflik besar yang terjadi di Ramayana sebetulnya bermula dari kegagalan kosmis. Para dewa tidak menyelesaikan masalahnya sendiri, mereka memindahkannya ke dunia manusia. Mereka memberi anugerah, tapi selalu setengah. Rahwana kebal dari para dewa dan raksasa, tapi sengaja dibiarkan rentan terhadap manusia dan wanara. Seolah-olah para dewa merancang celah, bukan keadilan. Kemenangan tidak lahir dari moral murni, melainkan dari desain takdir yang manipulatif. 

Dalam banyak versi, para dewa juga mendorong keputusan-keputusan berat tanpa ikut menanggung bebannya. Pengasingan Rama, perang besar di Alengka, bahkan ujian kesucian Sita. Semua dikaitkan dengan kehendak dharma dan restu ilahi, tapi penderitaan emosional dan sosialnya sepenuhnya jatuh pada manusia. Sita tidak diuji oleh para dewa yang merancang kosmos, melainkan oleh masyarakat yang dibungkus dalih moral. Rama harus memilih antara cinta dan kewajiban, sementara para dewa cukup menjadi saksi yang diam, turun hanya memberi pembenaran setelah luka terjadi. Yang menarik, para dewa hampir selalu muncul di akhir. Memberi pengakuan, pujian, atau legitimasi. Jarang sekali mereka hadir di tengah krisis untuk menjadi pencegah tragedi. Mereka seperti kekuasaan yang hanya mau datang saat cerita udah rapi, saat korban udah berjatuhan, dan saat luka ga bisa ditarik kembali.

Dari sini, Ramayana bisa dibaca sebagai kritik halus terhadap otoritas absolut. Bahwa "bahkan yang ilahi pun ga sepenuhnya netral". Kehendak langit sering kali adalah bahasa halus untuk keputusan yang terlalu berat untuk dipikul manusia sendirian. Kalo ditarik lagi lebih jauh, posisi para dewa di kisah ini menurut gw jadi semakin problematis. Mereka bukan sekadar penjaga dharma, tapi juga arsitek cerita, pihak yang menentukan arah, tapi jarang mau turun tangan saat bangunan itu runtuh. Mereka menetapkan aturan main, lalu membiarkan manusia saling terluka di dalamnya. Rama, misalnya. Dipuja sebagai manusia yang ideal justru karena ia berhasil menanggung beban yang seharusnya tidak sepenuhnya manusiawi. Rama diminta taat pada dharma yang bahkan menurut gw para dewa sendiri belum tentu mau menjalaninya. Rama harus adil, suci, rasional, tanpa cela, sementara para dewa bebas dari tuntutan itu. Ketika Rama ragu, ia justru ditekan untuk memilih kewajiban. Ketika Rama patuh, penderitaannya justru disakralkan. Seolah luka adalah bukti keberhasilan menjalankan peran kosmis.

Sita menjadi contoh paling telanjang dari ketimpangan ini. Dia ga pernah bener-bener diberi pilihan. Diculik bukan karena kesalahannya, diuji bukan karena dosanya, disingkirkan bukan karena kehendaknya. Semua atas nama keseimbangan dunia. Para dewa turun tangan hanya untuk mengafirmasi kesuciannya, bukan untuk mencegah penghukuman sosial yang menimpanya. Mereka membiarkan manusia belajar moral lewat penderitaan satu perempuan. Bahkan kemenangan atas Rahwana pun buat gw terasa ironis. Rahwana kalah bukan semata karena kejahatannya, tapi karena sejak awal dia dirancang untuk kalah. Dia diberi keabadian yang bocor, kekuatan yang timpang, musuh yang "kebetulan" memenuhi celah takdirnya. Ini bukan duel etis yang setara, tapi eksekusi kosmis yang rapi. Dalam skema ini, dharma tampak lebih seperti strategi, bukan nilai luhur yang tumbuh dari pilihan sadar.

Yang paling sunyi justru posisi mereka yang setia: Laksmana, Hanoman, dan pasukan wanara. Mereka menjalankan perintah tanpa pernah mengerti keseluruhan peta. Mereka berkorban demi keseimbangan yang bahkan ga pernah mereka rumuskan sendiri. Para dewa ga menanggung kehilangan, ga hidup cukup lama untuk merasakan dampaknya. Begitu dunia "seimbang" kembali, mereka mundur, kembali ke langit, meninggalkan manusia dengan trauma yang diwariskan lintas generasi.

Dari epos ini juga sebenarnya mereka memperlihatkan kalo dharma bukan sesuatu yang netral juga. Dharma ga jatuh dari langit dalam bentuk sebuah nilai yang pure, tapi disalurkan lewat struktur kuasa. Siapa yang berhak mendefinisikan dharma? Jawabannya hampir selalu sama: mereka yang berada di atas, salah satunya adalah para dewa itu sendiri. Sementara yang di bawah hanya diminta patuh. Bukan karena mereka paham, tapi lagi-lagi karena label "ini sudah kehendak semesta". Menariknya para dewa jarang sekali mempertanyakan diri mereka sendiri. Kesalahan selalu ditempatkan di level yang lebih rendah. Rahwana jadi simbol keserakaan, tapi jarang dibahas bahwa keserakahannya tumbuh dari sistem anugrah yang timpang yang mana itu diciptakan oleh para dewa itu sendiri. Rama dipuja sebagai teladan, tapi jarang dibahas betapa mahal harga yang harus ia bayar untuk mempertahankan citra itu. Seolah-olah penderitaan manusia adalah mekanisme yang normal untuk menutup cacat kosmis.

Kalau ditarik ke struktur ceritanya, Ramayana juga nunjukkin gimana otoritas bekerja lewat normalisasi luka. Luka ga dianggap sebagai kegagalan sistem, tapi justru sebagai bukti bahwa sistem itu berjalan. Rama menderita karena dia taat. Sita menderita karena dia suci. Laksmana dan Hanoman menderita karena dia setia. Rasanya kayak semakin besar penderitaan, semakin tinggi pula nilai moral yang dilekatkan. Dalam logika seperti ini, kebahagiaan justru menjadi sesuatu yang mencurigakan, seolah orang yang bener itu emang harusnya ga boleh bahagia. Di titik ini peran para dewa juga rasanya makin problematis. Mereka ga cuma jadi sumber dharma, tapi juga produsen narasi. Mereka menentukan siapa yang layak dipuja, siapa yang layak dikorbankan, dan siapa yang boleh dilupakan. Hanoman misalnya, dielu-elukan karena kesetiannya, tapi ga pernah diberi ruang untuk menjadi subjek yang lelah. Kesetiaan dijadikan identitas permanen, bukan pilihan yang bisa dinegosiasikan. Dan para dewa membiarkan itu terjadi, karena kesetiaan tanpa syarat adalah fondasi yang nyaman bagi kekuasaan. 

Konsep "keseimbangan dunia" atau "keseimbangan tatanan kosmis" yang sering dijadikan alasan utamapun menurut gw layak untuk dipertanyakan. Keseimbangan versi siapa? Kehadiran para dewa ini lebih sering berfungsi sebagai stempel moral daripada intervensi nyata. Seolah tugas mereka bukan melindungi manusia, tapi memastikan cerita tetap masuk akal secara kosmis. Maka Ramayana jika dibaca dari sisi ini, bukan cuma kisah kemenangan kebaikan atas kejatahan. Ramayana adalah cerita tentang gimana kekuasaan tertinggi bekerja: menciptakan krisis, menentukan solusi, lalu membiarkan yang di bawah membayar harga. Semua kekuasaan otomatis bersih dan benar hanya karena dibungkus atas nama dharma.

Dan mungkin di situlah Ramayana tetap relevan sampai hari ini. Bukan karena menawarkan jawaban moral yang rapi, tapi karena dia menyisakan pertanyaan yang cukup mengganggu bagi gw sendiri: Siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas penderitaan yang disebut "demi kebaikan bersama"? Dan berapa banyak luka manusia yang selama ini disembunyikan di balik nama kehendak langit?

Komentar