Hidup juga sebuah risiko



Hidup adalah sekumpulan risiko yang saling terhubung satu sama lain. Hanya dengan memulai hari, gw jadi tersadar kalo ga ada yang menjamin kemungkinan buruk untuk ga terjadi. Meskipun gw tau manusia hidup berdampingan dengan risiko, semua langkah hidup yang diambil masih aja kerasa menakutkan. Gw seolah terperdaya ilusi bahwa risiko buruk yang ditemui nanti merupakan awal dari kegagalan. Padahal, risiko belum tentu bermakna gagal. Mungkin, itu cuma sesuatu yang harus kita tukar ketika pengen mendapatkan sesuatu yang bernilai. Meski ga semuanya berujung pertaruhan, hal-hal besar hampir selalu datang dengan harga yang besar juga.

Sebetulnya yang bikin melelahkan bukan risikonya sendiri, tapi pikiran kita yang sibuk bernegosiasi dengan kemungkinan terburuk. Jadi endingnya udah keburu capek padahal mulai melangkah aja belum. Kita kalah bahkan sebelum permainan dimulai. Padahal, sering kali rasa takut itu cuma bayangan dari sesuatu yang belum terjadi. Tapi tetep aja, bayangan punya kuasa. Dia yang bikin kaki berat, dada sesak, dan kepala penuh skenario yang ga diminta.

Kita mungkin perlu mengerti, sebanyak apapun khawatir akan risiko, risiko itu ga akan pernah hilang dan lari. Yang dilakukannya cuma menunggu untuk dihadapi. Seolah cuma kita yang punya hak penuh buat mengambil kendali, atau justru menyerahkannya. Risiko bukan makhluk buas yang selalu datang untuk menghancurkan. Kadang cuma penguji biar tau seberapa besar kita berani mempercayai diri sendiri. Boleh jadi kita menganggap risiko seperti ilmu pasti yang ga bisa diotak-atik. Sekali salah langkah, selesai. Tapi kenyataannya, kita selalu punya ruang untuk memilih: meminimalisasi, mengalihkan, bahkan secara sadar menciptakan risiko versi kita sendiri.

Tapi ironisnya adalah, ketika kita memilih aman sepenuhnya, yang tanpa disadari kita juga sedang mengambil risiko lain: stuck, menyesal, dan bertanya-tanya.

Hidup yang benar-benar tanpa risiko biasanya juga hidup yang nyaris tanpa cerita. Tanpa luka, tanpa pelajaran, tanpa perubahan. Kita bisa menghindar, iya. Tapi selalu ada konsekuensi yang diam-diam ikut duduk di kursi sebelah kita. Dan konsekuensi itu sering kali datang dalam bentuk sunyi yang panjang. Adakah jiwa yang begitu gila hingga sudi meminang kekalahan dari segala risiko dengan sengaja? Mungkin ada. Tapi lebih banyak dari kita yang bukan gila, cuma lelah aja, kadang juga takut, seringkali disuruh hati-hati sampai lupa caranya berani.

Dan entah apapun jenis risiko yang kita lalui untuk mengiringi perjalanan hidup ini, cara terbaik melewatinya mungkin bukan dengan keyakinan penuh, tapi dengan kejujuran. Mengakui bahwa kita takut, tapi tetap melangkah juga. Menegakkan kepala, bukan karena yakin akan menang, tapi karena kita memilih untuk tidak lari.

Komentar