Menjadi Manusia: Meninjau Ulang
Satu waktu di bulan Februari, saat bumi sedang miskin hujan, ibu bercerita tentang aku yang sudah mampu membaca tulisan ketika berumur dua tahun. Sebuah pencapaian yang akan selalu diingat olehnya sebab aku berhasil mengalahkan beberapa balita lain di lingkungan tempat kami tinggal. Hal tersebut jelas membuatnya dipuji oleh ibu-ibu pengerumun gerobak sayur di hari Minggu pagi. Akupun sejatinya ga yakin kenapa aku bisa melakukan hal itu. Ga yakin di umur yang sekecil itu aku sudah bersahabat dengan huruf yang berserakan dalam satu bait kertas. Atau, sesimpel memang aku scoprio sejati yang berjiwa kompetitif, ga ada takutnya selain pada kekalahan (meskipun sekarang udah biasa aja sih).
“Warung bu Imas” adalah kalimat pertama yang kubaca. Yang kemudian membuat orang tuaku memutuskan untuk mendaftar ke sebuah TK di dekat rumah, selain karena aku yang mulai bosan tidak ada teman untuk bermain.
Bertahun-tahun setelah fasih mengeja nama-nama warung yang ada di sepanjang jalan di dekat rumah, aku tumbuh dengan kemampuan berbahasa yang melahirkan kemampuan-kemampuan lain. Bahasa asing dari film, buku, dan lagu, misalnya. Selain dituntut untuk memahami setiap kata, aku juga dituntut untuk mengarang. Di kelas menengah seringkali beberapa teman memohon untuk dibuatkan surat keterangan sakit palsu sebab dia terlalu malas untuk datang ke sekolah. Untungnya semua itu berjalan baik, hingga delapan tahun kemudian berlalu.
Ketahuilah aku pernah diikutsertakan dalam sebuah klub debat di sekolah, bersama dengan murid-murid lain yang kebanyakan hanya senang bicara tanpa konteks dan ga suka disela. Aku menolak karena hal itu terasa membosankan, rasanya energiku hanya akan terbuang sia-sia meladeni ocehan mereka.
Menurutku, manusia selalu punya cara untuk menyampaikan pikiran di dalam tubuh mereka, meskipun dengan cara yang ada-ada aja. Ga peduli harus mendebatkan suatu hal. Ga peduli harus pakai bahasa dan medium tertentu. Semacam insting bertahan hidup, atau itu hanya naluri manusia untuk mendapatkan yang mereka mau? Ga berhenti di situ, saat manusia akhirnya punya gaya tersendiri untuk mengonversi isi pikiran mereka, lawan interaksi kini ga lagi hanya makhluk berakal dengan dua kaki. Manusia juga menemukan sistem untuk berbahasa dengan tumbuhan, hewan berbulu, bahkan benda mati yang lebih mustahil lagi untuk membalas. Aku jadi ingat bagaimana Dr. Louise Banks di film Arrival mengupayakan segala cara agar bisa berkomunikasi dengan alien yang menginvasi daratan Amerika. Sebab alien itu ga kenal huruf alfabet, ga mengerti subjek, predikat, dan objek.
Kalau saja boleh meninjau ulang, aku ingin tahu apa alasan di usia dua tahun dulu aku menjadi akrab dengan tulisan. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tuhan ga akan membiarkanku lancar mengeja, meskipun ibu dan nenek sudah berbuih mengajarkan huruf dan angka. Tuhan bisa saja membiarkanku berceloteh dan menggeram seperti bayi-bayi lainnya. Apakah aku dibutuhkan untuk sebuah muslihat? Apakah Tuhan ingin aku menyampaikan pesan sebab tangisan bayi terlalu sulit dicerna oleh orang dewasa?
Kadang aku berpikir bahwa aku hanya segelintir manusia beruntung yang diberi kesempatan lebih cepat. Atau, aku seperti tanaman yang diajak bicara, kucing yang diterjemahkan bahasanya, bintang utuh yang diharap-harapkan, hasil dari interaksi ibuku yang percaya bahwa suatu hari nanti aku akan menjawabnya.
Barangkali, dibanding sibuk mencari jawaban mengapa Tuhan membuat semua hal di dunia ini saling berkaitan dengan bahasa, aku hanya perlu melakukan sebuah hal sederhana yang kupikir bisa menyelesaikan semuanya.
Ya.
Bersyukur.
Hiduplah untuk puisi-puisi, lirik lagu, dan keindahan hubungan antarmanusia dengan yang lain, atau hubungan manusia dengan alam raya.
Selamat sudah mencapai hari terakhir di bulan Februari.

Komentar
Posting Komentar