Kenapa puasa Ramadhan harus satu bulan?
Sebagai umat muslim yang juga menjalankan, kenapa kita harus berpuasa setiap tahun? Kenapa durasinya harus satu bulan? Kenapa harus dari pagi sampai sore menjelang malam? Dan kalau memang baik untuk tubuh, kenapa ga sekalian diperpanjang aja?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul justru di waktu-waktu paling selo. Waktu lagi ngabuburit, lagi nunggu buka puasa, atau waktu lagi sahur, pas badan masih setengah sadar dan berusaha ngumpulin nyawa tapi pikiran udah kemana-mana. Selama ini jawaban yang paling sering gw denger se sederhana: karena itu kewajiban. Puasa Ramadhan adalah perintah, bagian dari rukun yang memang harus dijalankan. Selesai. Ga perlu lagi diperdebatkan. Tapi terus terang semakin gw diemin, rasa penasaran semakin kuat.
Kenapa harus setiap tahun? Apa mungkin karena manusia mudah lupa? Apa yang kita rasa hari ini, sabar, empati, kesadaran, bisa dengan cepat hilang begitu hidup kembali berjalan normal. Maka Ramadhan datang seperti pengingat yang berulang? Mungkin? Bukan sekali seumur hidup, tapi berkali-kali, supaya nilainya ga cuma singgah, tapi perlahan menerap.
Lalu kenapa harus satu bulan? Satu bulan bukan waktu yang sebentar. Cukup panjang untuk bikin kita lelah, tapi cukup lama untuk membentuk kebiasaan. Di hari-hari awal, semua terasa berat. Di tengah, kita mulai terbiasa. Dan si akhir justru muncul rasa ingin tidak berpisah. Seolah-olah ada ritme baru yang akhirnya kita pahami, tapi harus dilepas lagi. Kalau hanya beberapa hari, mungkin kita belum sempat sampai ke fase itu. Bukan begitu?
Dan kalau memang baik untuk tubuh, kenapa ga lebih lama? Bagi gw (setidaknya) puasa Ramadhan ini ga cuma dimaksudkan semata-mata sebagai program kesehatan. Manfaat fisik itu ada, tapi bukan tujuan utama. Kalau durasinya diperpanjang tanpa batas, bisa jadi yang tersisa bukan lagi latihan menahan diri, tapi justru jadi beban yang sangat memberatkan. Ada batas yang dijaga. Karena manusia punya kapasitas. Puasa bukan tentang menyiksa tubuh, tapi melatih keseimbangan antara menahan dan memenuhi, disiplin dan jeda. Satu bulan terasa seperti batas yang cukup. Cukup untuk menguji, cukup untuk membentuk, tapi juga cukup untuk disyukuri ketika selesai.
Di tengah rutinitas yang makin ke sini makin ke sana, Ramadhan seperti menarik gw kembali. Ada dorongan untuk berkumpul, untuk duduk di meja yang sama saat berbuka, untuk sekadar mendengar suara yang mungkin sering gw abaikan di hari biasa. Bahkan untuk pulang ke hal-hal yang sering gw tinggalin. Mungkin itu juga bagian dari pertanyaan kenapa harus setiap tahun?
Dan di luar semua pencarian makna, semua pertanyaan rasional, puasa dan bulan Ramadhan ini diam-diam mengembalikan gw ke hal-hal yang selama ini gw anggap sepele. Rumah, suara ibu di dapur, obrolan sederhana di sela waktu berbuka, dan kata maaf yang seringkali terasa berat.
Selamat telah melalui bulan suci yang penuh berkah ini. Selamat menikmati opor ayam buatan ibu. Karena kalau opportunity to be yours sepertinya sulit.
Komentar
Posting Komentar