Membicarakan mimpi-mimpi
Katanya, usia belasan adalah saat yang tepat untuk membicarakan mimpi-mimpi. Setiap remaja yang tumbuh seperti sudah harus mengenal apa yang mereka ingin dan mereka cari. Naik level sedikit dengan mereka yang menginjak kepala dua, yang mana pembahasan hidup udah bergeser ke konsep yang lebih jelas. Entah itu cita-cita, cinta, bahkan cara menaklukkan seisi dunia. Dunia dalam konteks lebih dekat, bukan sebagai bola padat yang mengambang di angkasa. Tapi yang setiap kita lihat, hadapi, dan rasakan baik-buruknya.
Beberapa dari kita mungkin bersumpah menyesali keinginan untuk segera menjadi dewasa. Termasuk gw. Ternyata, makin bertambah usia, makin banyak rambu-rambu yang harus diikuti dalam melangkah. Perlu ada batasan yang jelas antara menyusun mimpi dan bangun mewujudkannya. Dalam suatu masa, bahkan kita hanya akan fokus pada perut yang minta diisi, lupa pada jiwa yang juga ingin dianggap penting.
Meski hidup memaksa kita bergerak menghadapi sesuatu yang wujudnya tampak, angan dan harapan itu masih ada di sana. Semuanya hanya menunggu kita melakukan urusan lain yang lebih konkret nilainya. Ga bakal ada yang bisa membuatnya keluar dari sana selain diri kita sendiri. Sebab tindakan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang menciptakannya pertama kali.
Agar seimbang, ga ada cara lain selain membuatnya hidup berdampingan. Baik mimpi dan kenyataan harus dijalani dengan keterlibatan. Mimpi bikin jiwa kita hidup, tapi ga langsung serta Merta bikin kebutuhan hidup menjadi cukup. Kita perlu menghadapi apa-apa yang ada di dunia sungguhan. Mengejar apa yang bisa digenggam langsung oleh tangan. Kita butuh hidup yang terus berjalan agar mimpi-mimpi itu selalu punya ruang. Kita butuh mimpi yang panjang agar hidup ga selalu sekadar bangun dan cari makan.
Masalahnya kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk takut gagal dibandingkan menghadapinya.

Komentar
Posting Komentar