Jangan bicara kalau ga bisa nepatin
Andai kata ngantemi ndas e uwong bukanlah sebuah bentuk tindak kriminal, gw yakin hal itu udah gw lakuin berpuluh-puluh, ribuan, bahkan ratusan ribu kali ke orang-orang yang ga bisa nepatin omongannya sendiri. Entah itu hanya sebatas ucap, atau terselip janji di dalamnya. Apapun itu bentuknya, yang jelas sesuatu yang bikin orang lain bisa percaya.
Kadang gw mikir, kata-kata itu mestinya punya berat. Sekali keluar, dia ga lagi ringan. Seharusnya ada yang mulai untuk menyusun waktu, menunggu kabar, ga jarang juga yang diam-diam berharap. Iya kan? Tapi ironisnya untuk sebagian orang, kata-kata cuma sebatas angin lewat, ga pernah bener-bener singgah dan menepi. Lucunya, yang ditinggal nunggu sering kali bukan cuma satu atau dua hal. Yang seringkali dianggap remeh adalah efeknya yang berbuntut panjang. Ga sebatas satu-dua hal yang kena. Ada rencana yang ketunda, ada waktu yang kebuang sia-sia, ada prioritas yang jadi berantakan.
Bahkan lebih menyeramkannya lagi (menurut gw) adalah, ada cara pandang yang pelan-pelan berubah. Dari yang awalnya percaya, jadi ragu. Dari yang biasa aja, jadi mikir dua kali, sampai berkali-kali. Dari yang netral, malah berakhir jadi negatif. Dan di titik itu baru kerasa, ternyata bukan sekadar soal omongan atau janji yang ga ditepati, tapi soal gimana gw udah ga lagi dihargai.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan cuma waktu, tapi juga kepercayaan. Dan kepercayaan itu ga semerta-merta tumbuh secara instan. Sekalinya runtuh, ga gampang buat ngerakit lagi dengan bentuk yang sama.
Celakanya buat orang-orang berhadapan dengan orang kyk gw, jangan harap gw akan percaya lagi setelah itu. Jadi kadang, gw pikir dan gw merasa lebih baik ga usah ngomong sekalian. Diam itu jauh lebih jujur daripada omongan dan janji yang ga pernah niat dijaga.
Dunia ini ga cuma berputar di lu doang men, semua orang juga punya hidup yang sama-sama berjalan. Dan kalau ada yang terus-terusan bertindak seolah-olah waktunya paling berharga, kesibukannya paling penting, sementara orang lain bisa diperlakukan seenaknya, mungkin yang perlu diubah bukan cuma ekspektasi dan cara pandang, tapi cara gw memperlakukan orang lain. Telat gw menyadari kalau ternyata ga semua orang pantes dikasih ruang yang sama dalam hidup kita.
Sebagian orang emang lebih pantes untuk diteriakin CELENG KON!

Komentar
Posting Komentar