Riuh
Sebagai generasi yang haus akan banyak hal, kita kerap melakukan eksplorasi yang tiada habisnya demi membuktikan sesuatu yang terancang hebat dalam kepala. Jika tujuannya mencari jawaban atas segala bentuk tanya jati diri, beberapa cerita masih bisa dimaklumi. Yang jadi masalah adalah ketika segala sesuatu dilakukan demi mencari validasi kalau kita unggul dalam semua sisi. Tidak kita pahami, perilaku itu tanpa sadar membuat kita mengeluarkan lebih banyak energi. Seringnya kita lupa, saat beralih dari satu hal ke hal lain, membuat kita harus berganti semangat dan motivasi pula. Dan, meski sadar itu menguras fisik dan batin, kita seolah dibutakan oleh tanda-tanda kelelahan, hingga berakhir ga punya kekuatan untuk bertahan, sehingga yang terjadi adalah mimpi-mimpi yang berantakan.
Barangkali kita menikmati semua hal yang perlu kita kerjakan. Dengan kerasnya percaya kalau energi itu takkan habis dimakan zaman. Faktanya, hal-hal yang kita kejar kerap meinggalkan banyak tanda tanya. Namun, kita menolak menyadari semua itu. Yang kita percaya adalah hal-hal tersebut akan menjadi tepat pada akhirnya. Segala yang kita usahakan akan membuat orang-orang menoleh dan berakhir memberi tepuk tangan.
Seiring berjalannya waktu, kita baru sadar jika selama ini hanya sibuk melepaskan energi tanpa mengelolanya dengan benar. Apa-apa yang diupayakan, ternyata membuat kita masih terus merasa kurang. Alih-alih berujung pencapaian, yang terjadi adalah kita hanya membuatnya bergerak di tempat, tidak membuatnya menghasilkan kemenangan mutlak. Bayangin aja jika kapasitas yang kita punya digunakan untuk fokus ke satu-dua keahlian, mungkin jawaban atas kata berhasil sudah kita genggam di tangan. Karena terkadang, kita ga kemana-mana bukan karena pilihan itu ga ada, tapi karena terlalu banyak yang harus dicari mana yang sesuai.
Kita mungkin perlu mengerti, sebanyak apapun khawatir akan risiko, dia ga pernah hilang dan lari. Yang dilakukan hanyalah menunggu untuk dihadapi. Seolah hanya kita yang mampu mengambil kendali, dan dengan berani melangkah semua bisa teratasi.
Meski hidup sering kali menempatkan kita di persimpangan yang riuh dan kencang, dengan kesabaran menjabarkan logika dan percaya pada intuisi, mungkin saja semua bisa teratasi. Memutuskan untuk memilih sesuatu memang tidak semudah yang dibayangkan, tapi bukan berarti kita akan terus-terusan berserah pada situasi kebingungan.
Kalau berani menyepelekan tanggung jawab untuk hari ini, harus berani tidak menyalahkan diri sendiri atas masa lalu di keesokan hari.
Komentar
Posting Komentar