Traffic Jam



Urusan perasaan, tiap dari kita mungkin melewati fase stagnan,  ga bergerak ke mana-mana, seperti terjebak di kemacetan panjang. Apa pun yang dilakukan hanya akan berbuntut penyesalan. Semua keputusan yang diambil tak ubahnya senjata makan tuan. Segalanya berlangsung begitu aja. Yang kita tau, setiap waktu yang dilalui bersama jadi terasa lebih bernyawa. Tawa yang muncul ga sekedar ha-ha-ha-ha, tapi mungkin mengkultus jadi cinta. Candaan yang keluar bukan lagi soal lelucon belaka, tapi bentuk cari muka. 

Sebaliknya, begitu dia ga ada, kita merasa separuh dunia menghilang. Jumlah keramaian apa pun ga mampu memenuhi isi kepala yang mendadak lengang. Dan sudah, segalanya menjadi serba kurang.

Mungkin, kita pernah menyangkal perasaan ini mati-matian. Bersikap biasa aja saat tatap mata itu berhadapan. Tapi makin kita berusaha ga ada yang salah, makin dekat kita dengan sebenar-benarnya masalah. Lagi pula, siapa yang pernah menyangka, kepada orang terdekat sendiri kita akan cinta? Terdengar masuk akal sebab kebersamaan yang dilalui bisa jadi penyebab utama. Terdengar ada-ada aja, sebab ini akan membuat banyak tanda tanya di kepala. Jika semuanya tidak lagi ditutupi, kita harus bersiap atas segala kemungkinan buruk yang terjadi. Entah sikapnya yang ga lagi sama, atau kepergiannya yang sulit diprediksi.

Mungkin, permasalahan ini hanya perlu disikapi dengan jiwa yang lapang. Sadar diri kalau semuanya harus sesuai porsi adalah sebaik-baiknya pilihan. Biar aja semua memiliki batas, biarkan ia terbang bebas. Seiring berjalannya waktu, barangkali perasaan ini akan meredup. Kita cuma perlu membiasakan diri sampai ga ada lagi rasa yang meletup-letup.

Kamu adalah cerita yang udah ga bisa diceritain ke siapa-siapa. Bukan karena ga ada yang mau dengerin, tapi karena rasanya… ga ada yang benar-benar bisa ngerti tanpa jadi bagian dari cerita itu sendiri.

Akhirnya kamu cuma jadi sesuatu yang dipendem sendiri. Disimpen rapi di kepala, diulang-ulang diam-diam, kadang muncul tiba-tiba tanpa diminta. Ada di banyak momen kecil di dalam lagu yang ga sengaja keputer, di tempat yang pernah dilewatin bareng, atau di hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa, tapi sekarang jadi beda.

Aneh ya, gimana seseorang bisa berubah jadi kenangan, tapi efeknya masih terasa nyata. Ga bisa disentuh, ga bisa diajak bicara, tapi tetap ada. Tetap ngaruh. Dan mungkin, bukan karena ceritanya ga bisa diceritain. Tapi karena setiap kali mau mulai, kita sendiri belum siap buat benar-benar selesai sama cerita itu. Jadi akhirnya kita pilih diam. Bukan karena lupa, tapi karena masih ingat terlalu jelas.

Nanti, suatu hari saat kita bertemu dia, bisa jadi semua cerita nostalgia ga bikin kita merasakan apa-apa. Biarkan saja dia memilih jalan hidupnya. Biarkan sampai kita mengetahui fakta bahwa nyatanya kita ga pernah memulai apapun. Yang kita kira interaksi kita ada artinya.

Lucu ya. Yang kita kira tepat, ternyata kasih sedih paling hebat. 


Lalu menangislah yang puas.

Komentar