(masih) hidup


Hidupku akhir-akhir ini dipenuhi dengan banyak sekali kekecewaan. Kukira semua rencana akan sesuai dengan skenario yang ada di kepala. Ternyata aku lupa, aku cuma manusia biasa yang ga berdaya. Yang kususun tak terbangun, yang kurancang jauh dari bayangan. Mungkin aku kurang berserah? Sebab itu hanya menghasilkan lelah dan patah yang parah. Berbagai keinginan rasanya masih jauh dari jangkauan tangan. Selagi kuusahakan. Tuhan seolah menciptakan kecewa lebih besar dibanding luasnya hati kita. Atau jangan-jangan, perkara menerima kecewa justru itu tugas yang harus bisa diemban manusia?

Akhir-akhir ini aku belajar lagi untuk menguatkan dan mengingatkan diriku sendiri. Kubilang padanya “jangan lagi merasa tertinggal dari orang lain. Mereka ga harus memikirkan kebutuhan. Bisa leluasa memuaskan keinginan.”  Meski terasa tragis, ga mungkin aku terus-terusan menangis. Aku juga ga tahu cara yang benar dalam bercerita agar bisa dapat jawaban yang sebagaimana harusnya. Sebab itu masih ada banyak hal yang kusimpan sendirian. Yang jadi masalah adalah, ga semua orang mengerti kerumitan apa yang sedang kita alami. Beberapa menganggap kita punya hidup menyenangkan, terlihat tanpa beban.

Kabar baiknya, aku masih hidup. Kabar buruknya, aku juga masih hidup. Masih hidup menjadi hal yang baik sekaligus buruk. Baik karena aku masih punya ruang untuk mencoba memperbaiki dan menata kembali diri, atau setidaknya memahami apa yang sedang kacau dalam diri. Tapi buruk karena setiap hari terasa seperti pengulangan ujian yang belum aku temukan jawabannya. Hari demi hari sebatas mengingatkanku pada beban yang belum selesai.

Di tengah dua sisi itu, sejauh ini aku hanya bisa berdiri. Tidak sepenuhnya ingin pergi, tapi juga belum tahu bagaimana caranya benar-benar hidup.

Ternyata usia yang bertambah tidak menjamin hidup akan lebih mudah untuk dikontrol. Justru semakin banyak lelah dan patah yang datang tiba-tiba, dengan kedatangannya yang hanya bisa diterima. Hingga semua menumpuk di dada, jadi riuh berisik dalam kepala. Terkadang untuk mengeluh udah kehabisan tenaga lebih dulu.

April terlalu baik untukku, April terlalu jahat untukku, April tidak bisa memilih, dan Mei ternyata jauh lebih melelahkan. 

Komentar